Panduan Dasar Ternak Ayam Kampung - NIAT USAHA
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Panduan Dasar Ternak Ayam Kampung

Panduan Dasar Ternak Ayam Kampung

Ayam kampung merupakan salah satu jenis ayam buras (bukan ras). Nama ilmiahnya adalah Gallus Domesticus. Jenisnya juga ada bermacam-macam, yaitu: ayam kedu, ayam nunukan, ayam pelung, ayam sumatera, ayam gaok, ayam samba, ayam arab, dan lain-lain. Ayam kampung ini sudah banyak diternak dari jaman dahulu, umumnya hanya untuk usaha sampingan saja. Namun, karena permintaan ayam kampung (baik telur dan dagingnya) saat ini makin bertambah, maka ide beternak ayam kampung bisa menjadi salah satu usaha yang menguntungkan. Kamu tertarik beternak ayam kampung? Yuk, pelajari dulu dasar-dasar beternak ayam kampung. 

Sistem peternakan ayam kampung

Pada dasarnya, ternak ayam mempunyai 3 cara beternak ayam, yaitu sistem ekstensif, semi intensif dan sistem instensif. Bagaimana caranya sistem-sistem itu bekerja? Berikut ini penjelasannya.

Sistem Ekstensif (Tradisional)

Sistem ekstensif/tradisional juga biasa disebut sistem umbaran, di mana ayam dibiarkan lepas tanpa kandang. Ayam biasanya dibiarkan saja di pekarangan rumah. Cara memberi pakannya juga tidak begitu mempunyai pakem tertentu, bisa hanya dari sisa-sisa makanan manusia dan untuk makanan tambahan ayam akan mencarinya sendiri. 

Tidak perlunya kandang dan penyediaan makanan dengan aturan khusush membuat ternak ayam yang biasa dalam skala kecil ini hanya membutuhkan modal yang sedikit. Namun, ternyata resikonya juga lumayan tinggi. Misalnya kematian anak ayam yang tinggi karena tidak terawat dengan baik, adanya kesempatan predator lain untuk menyerang ayam, dan produktifitas ayam tersebut juga rendah karena memang pertumbuhannya juga tidak diperhatikan secara serius. 

Sistem semi intensif

Sistem semi intensif menggunakan pekarangan luas untuk memelihara ayam. Jadi, ayam masih mempunyai ruang gerak yang luas namun terbatas. Pada sistem ini, ayam hanya diberi makan sekali pada pagi hari. Selanjutnya ayam tersebut akan mencari makanannya sendiri. 

Maka dari itu, sebaiknya peternak mencangkuli tanah agar tidak terlalu padat, agar cacing tanah dapat tumbuh di sana untuk menjadi makanan alami bagi ayam tersebut. Dengan menggunakan sistem ini, tentunya tingkat kematian ayam-ayam juga menjadi rendah, namun butuhnya lahan yang luas membuat pengeluaran yang besar untuk peternak.

Sistem intensif

Sistem intensif ini berarti ayam dimasukkan ke dalam kandang dan diberi makanan secara teratur. Sistem ini tidak terlalu cocok untuk ternak ayam kampung karena ayam kampung sudah terbiasa hidup di alam bebas. Keterbatasan ruang gerak dapat memperlambat pertumbuhan dari ayam kampung tersebut. 

Pemilihan bibit

Bibit ayam kampung bisa didapatkan melalui dua cara, yaitu dari induk ayam yang sudah kamu pelihara atau dibeli dan membeli bibit dalam bentuk DOC (Day Old Chicken). DOC adalah anak ayam yang baru menetas. Namun sebelum membeli DOC, kamu harus teliti memilih DOC dengan asal usul yang baik. 

Ciri-ciri dari DOC yang baik adalah tidak telat dan tidak kecepatan waktu penetasannya, yaitu tepat 21 hari; mata yang bersinar dan cerah; lincah dan berdiri tegap; sehat dan bugar; tidak memiliki cacat fisik; dan bulu-bulunya bersih dan mengkilap. 

Pemberian pakan 

Ayam kampung bisa diberi makan berupa cacing, serangga atau sisa-sisa makanan. Pastinya, kamu penasaran kan berapa banyak pemberian makan untuk ayam kampung? Berikut penjelasan pemberian pakan ayam sesuai dengan umurnya.

Memberi makan ayam kampung bisa dibilang mudah daripada pakan ayam ras. Hal ini dikarenakan kamu tidak harus memberikannya pakan pelet atau konsentrat. Ayam buras bisa diberi makanan apa saja yang penting mengandung protein, karbohidrat, vitamin dan mineral yang cukup. Berikut adalah cara meramu pakan untuk ayam buras. 

Tambahan:

Ayam dewasa (4 bulan ke atas) bisa diberikan makanan tambahan, seperti sisa-sisa makanan manusia, ampas tahu, ampas singkong, talas, ubi, cangkang keong yang dihaluskan dan sebagainya. 

Sistem kandang

Peletakkan dan cara merawat kandang juga penting dipelajari karena dapat memengaruhi kesehatan ayam. Misalnya jarak kandang dengan rumah dan pemukiman minimal 5 meter, kandang selalu dalam keadaan kering dan bersih, kandang menghadap ke timur agar sinar matahari dapat langsung masuk ke kandang, lokasi kandang tidak banyak terkena angin kencang, dan sesuaikan jumlah ayam dengan lebar kandang (jangan sampai ayam berdesak-desakan).

Pengendalian penyakit

Sebelum memelihara ayam kampung, kamu juga harus tahu bagaimana menghindari ayam-ayam tersebut dari penyakit. Caranya adalah menjaga kebersihan kandang, pemberian pakan yang segar dan sesuai kebutuhan, melakukan vaksinasi secara teratur, dan lokasi pemeliharaan yang bebas penyakit.

Pemeliharaan, pemanenan, dan penjualan

Ayam kampung baru bisa dikonsumsi saat umur 8 – 12 bulan, sedangkan baru dapat bertelur di usia 6 bulan. Hal yang harus dihindari adalah mengurung ayam kampung selama 24 jam dan hanya memberikan makanan pabrik saja. Sebaiknya, kamu bisa melakukan sistem semi intensif di mana ayam diberi ruang gerak bebas namun masih dibawah pengawasan. 

Beternak ayam kampung atau buras bisa dibilang tidak terlalu susah. Hal ini dikarenakan ayam-ayam kampung memang sudah terbiasa hidup mandiri. Pemberian makannya pun relatif mudah, karena tidak diharuskan mengkonsumsi satu jenis makanan saja. Yuk, beternak ayam kampung!

Posting Komentar untuk "Panduan Dasar Ternak Ayam Kampung"